Maaf.
Tapi bukankah kita saling tau kopi itu selalu sama pahitnya.
Kau minum juga akhirnya, kau rutuki juga setelahnya.
Bukan main, kau..
Mungkin ada yang salah denganku, jika sampai benar-benar kau menyalahkan sikap santaiku. Atau kesalahan itu bisa jadi milikmu.
Sadarilah bahwa pahit yang kau teguk itu tak layak dirutuki, tak pantas disesali.
Rasanya kita sudah ratusan kali menyesap pahit. Dan sama semua.
Lalu apa yang jadi masalah ?
Diamlah, jangan meracau.. Jangan kau teguk kalau tak suka.
Jangan meracau.. Kau terlihat semakin putus asa.
Jangan meracau.. Tolong, jangan..
Sekarang kau tidak hanya memaki pahit, tapi juga aku.
Hanya karena aku diam dan tidak bereaksi apapun, bukan berarti aku tak berpikir.
Kau menyalahkan aku yang tak menyesali keadaan, kemana saja ?
Dari dulu, aku tak pernah menyesali hidupku, semuanya. Semuanya, tanpa kecuali.
Kau saja tak pernah memperhatikan.
Ketika aku berpikir, aku menemukan lebih banyak hal yang membuatku bersyukur tanpa bersorak, tak ada lagi alasan untuk menyesal.
Kau tau kenapa bisa begitu ? Aku diam saat berpikir, aku tenang.
Kuingatkan saja, kopi itu akan tetap pahit.
Tak usah kau seduh lagi, tak usah kau reguk lagi.
Sudah cukup, pahit itu ternyata tak membuatmu belajar untuk terbiasa.
Sudah cukup.
Aku tidak ingin merusak hati, dengan kecewa.
Maaf.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar