Aku pernah yakin untuk sebuah alasan, tapi kenyataannya justru nggak sejalan.
Mengenal satu orang teman dekat dalam satu tahapan hidup, mengajaknya berlari bersama, menggandeng bahkan menyeretnya ketika ia mulai melambat. Berjanji akan terus berproses bersama. Teman yang digadang gadang akan terus menemani, sampai nanti.
Semanis harapan para bocah.
Sayangnya, semakin tua kita, egoisme ikut bertumbuh sebesar badan empunya. Berteman seperti hanya kebutuhan untuk mengusir sepi, lalu menganggap teman jadi rival sejati.
Seringnya, dia membenci setiap jengkal langkahku yang berada lebih awal.
Kami punya kecepatan yang berbeda, punya kemampuan yang tidak sama.
Aku akan selalu mengajaknya berlari bersamaku, tak jarang juga aku melambatkan langkah untuk menyamakan irama dengannya, demi mencapai tujuan bersama.
Kecuali karna aku yang terlalu naif.
Teman baikku hanya mau memperlambat langkahku agar kami beriringan. Tapi tidak jika ia berhasil lebih terdepan, dia akan tetap disana dan pura-pura tidak mendengar seruanku.
Hidup itu kayak retakan retakan halus jika kita jeli melihatnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar